Menurut Kantor Berita ABNA, Jean-Yves Le Drian Kamis (11/3/2021) saat jumpa pers mengklaim negaranya menyesalkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir tidak ada langkah yang diambil untuk menyelesaikan krisis politik dan ekonomi Lebanon dan memperingatkan tumbangnya Beirut.
Setelah insiden ledakan mengerikan terbaru di Pelabuhan Beirut, negara-negara Barat semakin intens merilis statemen intervensif di urusan Lebanon.
Sementara itu, intervensi Prancis di urusan internal Lebanon setelah insiden ini juga meningkat drastis. Presiden Prancis Emmanuel Macron setelah insiden ledakan Pelabuhan Beirut dua kali berkunjung ke Lebanon dan menggulirkan statemen intervensinya.
Macron di salah satu kunjungannya ke Lebanon setelah insiden ini, selain meninjau lokasi ledakan mengklaim, ia berkunjung untuk mendukung bangsa Lebanon dan memberi bantuan langsung kepada rakyat negara ini.
Statemen ini tercatat intervensi di urusan internal Lebanon dan sejumlah pengamat mengkritik statemen ini.
Kendala utama dan saat ini Lebanon adalah intervensi Arab Saudi, Amerika Serikat dan Prancis di urusan internal negara ini serta sikap sejumlah faksi Lebanon yang berafiliasi dengan poros Zionis-Takfiri, mengikuti kebijakan dan strategi anti muqawama. (MF)
342/